Sabtu, 22 Maret 2014

puisi ayah

Ingin ku gali gundukan itu Dan mencabut papan nama setiap dukaku Biarlah nafasku memeluk tentangmu Puisi-puisi gelap menimangku Sajak berairmata merangkulku Dan merambatkan tiap ratap disekitar gelap Seolah kau utus jangkrik untuk memejamkan lelahku Nyanyi cerita tentang dahaga merindu Seolah kau titipkan restumu Lewat dingin malam menyuap Mantra-mantra penghapus basah tatapku Tiap dendang lantun macapat mengiring sendu Seperti suara hati yang tersampaikan padaku Bahkan suara gitar berbeda saat anganku Menuju kenangmu Getar yang mencakar, melahirkan syair bak pujangga berlagu Ini untukmu, itu buatmu, dan doa sebagai bhaktiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar